Sabtu, 22 Agustus 2009

Jeritan

dikala sang dewi malam telah menari indah dilangit kelam tak berbintang
seucap kata terucap lemah dan terluka
* sang lentera berkata:
Ampuni aku Tuhanku aku tahu aku berdosa, tak mampu aku menanggung derita atas apa yang sang raga lakukan
Ampuni aku sang Ratu,aku tak mampu membunuh tunas" ilalang yang selalu berusaha tumbuh dan tumbuh menjajah isi dari sang raga
Ampuni aku sang Penguasa, tak sampai hati ku melukai jiwanya dengan apa yang telah sang raga lakukan
Sementara disaat yang sama sang duri berkata:
Aku hanya mengingkan keceriaan dalam hidup sang raga
hidup singkat yang tidak memiliki waktu untuk disesali
Aku hanya ingin sang raga bahagia walau dalam derita
Bila tiba saatnya sang raga pasti mampu menengahi segalanya
sisa semangat sang raga seolah padam ia mersakan betul kegundahan lentera saat sang duri berusaha menancapkan detil" tajam yang seolah mengoyak bila disingkirkan
sang raga kalut
ia tak mampu mengenyahkan salah satu dari mereka baik lentera maupun sang duri, bila ia melenyapkan lentera, ia akan ada dalam kegelapan dan hilang ditelan gelap malam
sementara ia tak kuasa menahan sakit bilamana duri itu menoyaknya dengan tiap detil yang ia miliki saat akan dienyahkan
sang raga
tak mampu..
tak bisa..
dan akhirnya ia tenggelam dalam dilema..yang tercipta antara lentera dan duri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar